Menghindari Fitnah

Minggu, 21 November 2010
Ketika Khalifah Utsman bin Affan mengutus kurir ke negara tetangga untuk menjalin hubungan diplomatik, Umi Kaltsum, istri khalifah titip bingkisan minyak wangi untuk istri raja itu. Pulangnya, sikurir ganti membawa bingkisan balan dari istri raja berupa mutiara dan permata. Melihat kiriman itu, Khalifah Ustman langsung menyita hadiah itu dan dianggap menjadi milik negara.
"Kalau kau bukan istri Khalifah, tak mungkin kau menerima bingkisan ini." kata Khalifah kepada istrinya Umi Kultsum.
"Yang ku terima itu hadiah balasan pribadi dari istri raja." jawab Umi Kultsum.
"Benar. Tetapi untuk urusan kirim-mengirim ini telah menggunakan pasilitas negara lewat kurir kekhalifahan." ujar Khalifah.
Karena saling tak mau mengalah, suami itu kemudian sepakat untuk menyelesaikan urusan itu lewat jalur hukum. Maka diserahkanlah bingkisan hadiah itu kepada hakim.
Setelah melewati persidangan yang panjang, akhirnya hakim memutuskan bingkisan hadiah itu sah menjadi milik pribadi Umi Kultsum.
"Sudah kuduga sebelumnya aku akan kalah dalam persidangan perkara ini," kata Khalifah Utsman.
"Lalu kenapa Khalifah ngotot mengajak ke pengadilan?" jawab Umi Kultsum istrinya.
"Jika tidak diselesaikan lewat jalur hukum, aku khawatir perkara ini menjadi fitnah." ujar Khalifah
Fitnah bagaimana?"
"Orang akan berkata: Lihat itu, istri Khalifah menggunakan kesempatan dan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Alasan lain, aku khawatir caramu itu akan ditiru oleh istri-istri pejabat yang lain," jawab Khalifah
Meskipun itu tidak apa-apa, tetapi bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan atau kesan negatif. Oleh karena itu harus dihindari oleh seorang muslim.
Setelah direnungkan dalam-dalam oleh Umi Kultsum, kekhawatiran suaminya itu cukup beralasan, Maka, atas kesadaran sendiri, malam itu juga ia menyerahkan bingkisan hadiah itu ke baitul maal, menjadi milik negara.
"Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan taqwa yang tinggi sehingga rela meninggalkan hal-hal yang sepertinya tidak apa-apa, tetapi bisa menimbulkan apa-apa."
demikian sabda Rasulullah Saw. dalam hadisnya.

Dari sepenggal kisah diatas, sangatlah berbeda dengan kehidupan pemimpin (Khalifah) dan pejabat di negara kita saat ini, dimana fasilitas negara bebas digunakan untuk kepentingan pribadi oleh istri, anak dan keluarganya.

Demikian postingan kali ini, semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

32 komentar:

sibutiz mengatakan...

ahirnya bisa jadi yang pertama juga kang saya berkomentar...

nice story kang...

free ebook mengatakan...

kaya blognya kang rohman yia??? :)
artikel diatas sangat bermanfaat

Urang Lembur mengatakan...

@sibutiz He..3x Sip Kang, Makasih ya atas komentarnya

Urang Lembur mengatakan...

@free ebook Betul sekali sobat, beliau kan guru saya...^_^
Makasih atas komentarnya

syamsul rijal mengatakan...

nice post n salam kenal....

andri4healthy mengatakan...

seandainya para pemimpin atau para pejabat seperti khalifah akhlaknya,ya,,,negara kita ga akan kaya gini,,,

IF mengatakan...

bagus utk dijadikan tauladan, nice post

sepak bola news mengatakan...

posting bagus... enak dibaca , lam kenal ya gan?

kakak dan abel mengatakan...

seharunya para pejabat negara bisa mencontoh Khalifah Utsman bin Affan, mereka tidak ingin ada fitnah terhadap dirinya

MUXLIMO mengatakan...

sayang sekali, khalifah indonesia kebanyakan muslim yang pola pikir dan tindaknya udah kebius ama gaya2 machiaveli..

Nice post, Kang.. :)

Urang Lembur mengatakan...

@syamsul rijal Salam kenal kembali Kawan..

Urang Lembur mengatakan...

@andri4healthy Ya,,itu tugas kita sebagai generasi muda uuntuk merubahnya.

Urang Lembur mengatakan...

@IF Semoga saja para pemimpin kita bisa menauladaninya....

Urang Lembur mengatakan...

@sepak bola news Salam kenal kembali kawan

Urang Lembur mengatakan...

@kakak dan abel Betul sekali kawan..

Urang Lembur mengatakan...

@MUXLIMO Sebagian besar memang begitu Kang, tapi masih ada juga yang amanah tapi kita sangat sulit mencarinya...

RAVE67-GIGIH mengatakan...

wow joznya... sahabat nabi itu sangat memperdalam agama yang diajarkan Nabi Muhammad saw... GREAT

Ilham mengatakan...

Thanks infonnya nie ..

Urang Lembur mengatakan...

@RAVE67-GIGIH Tentu sobat, tapi kenapa para khalipah di negeri ini tidak mencontohnya..??

Urang Lembur mengatakan...

@Ilham Makasih kembali kawan....

Chenk Rahman mengatakan...

Semakin mantap aja postingannya...

nah yang begini yang sangat mencerahkan kaum blogger......

ehm kommunika mengatakan...

Salut sama akang....

Ajeng Sari Rahayu (Dii Ajeng Kellin) mengatakan...

Benar mas,sangat berlainan dengan kehidupan sekarang.

Ya pada intinya, jika para petinggi di negara ini berpegang teguh pada Al Qur'an dan Al Hadist insyaAllah tentram rakyatnya...

emzeth mengatakan...

DAHSYATT, keren tulisannya mas. coba pemimpin negara kita kayakgthu, gak kebayang Indonesia udah jadi negara sehebat apa...


commented by: Emzeth

Fadhil (ilmu komputer pemula) mengatakan...

Wilujeng enjing, nepangkeun abdi Fadhil ti desa Pangadeugan. Hoyong ngiring ngwangkong di ieu blog, mangga dihaturan linggih di blog abdi nu masih sepi

Mr.Kelpo mengatakan...

Saya suka artikel yg satu ini, :)

Urang Lembur mengatakan...

@Chenk Rahman He..he lumayan kang,
Yup, betul sekali kang kaum blogger identik dengan kaum muda yang berarti calon-calon pemmpin

Urang Lembur mengatakan...

@ehm kommunika hatur Nuhun kang,,

Urang Lembur mengatakan...

@Ajeng Sari Rahayu (Dii Ajeng Kellin) Ya, mudah-mudahan para pemimpin kita diberi hidayah oleh Alaah SWT, agar tidak terlena dalam nikmatnya dunia.

Urang Lembur mengatakan...

@emzeth Kalau menurut saya, kalau pemimpin negara kita seperti khalifah Utsman, Insya Allah negara kita akan makmur.

Urang Lembur mengatakan...

@Fadhil (ilmu komputer pemula) Mangga kang,,

Urang Lembur mengatakan...

@Mr.Kelpo Terimakasih Sob,

Posting Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Kritik dan Saran sangat berharga bagi saya untuk membangun Blog ini lebih baik, Silahkan isi komentar Anda di bawah ini..